Shara Sufatus Zein
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
Janita Ika Widya Wulandari
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
Reva Vida Alvina
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
DOI: https://doi.org/10.19184/jei.v2i3.60012
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kualitas minyak goreng setelah digunakan berulang kali dengan mengukur nilai resistansinya menggunakan sistem sensor berbasis Arduino. Proses pengujian dilakukan dengan empat jenis bahan penggorengan, yaitu ayam, tempe, telur, dan ikan asin, masing-masing dilakukan sebanyak lima kali penggorengan. Pengukuran resistansi dilakukan setelah minyak didinginkan hingga mencapai suhu ruang agar hasil lebih stabil. Data hasil pengukuran menunjukkan bahwa resistansi minyak meningkat seiring bertambahnya jumlah penggorengan, menandakan penurunan kualitas minyak akibat penumpukan sisa bahan dan hasil oksidasi. Minyak jernih memiliki resistansi 131 Ω, sedangkan minyak sangat keruh mencapai 1818 Ω. Hasil analisis menunjukkan bahwa minyak dengan resistansi di bawah 637 Ω tergolong baik, resistansi antara 637–1312 Ω perlu diwaspadai, dan resistansi di atas 1312 Ω dikategorikan buruk atau tidak layak pakai. Nilai resistansi minyak penggorengan ayam dan tempe masih berada di bawah batas minyak baik hingga penggorengan kelima. Minyak penggorengan telur mengalami kenaikan resistansi yang lebih cepat namun tetap berada dalam batas aman. Minyak hasil penggorengan ikan asin mengalami peningkatan resistansi paling tinggi, melewati batas kualitas minyak baik pada penggorengan keempat dan menjadi tidak layak pakai pada penggorengan kelima. Hasil ini menunjukkan bahwa metode pengukuran resistansi dapat digunakan sebagai indikator sederhana untuk menilai tingkat degradasi dan kelayakan minyak goreng setelah penggunaan berulang.
KATA KUNCI: minyak goreng, resistansi, kualitas minyak, Arduino, degradasi